Hallo gamer mania, pecinta game assassin's screed mana suaranya ? game yang satu ini sangat memang populer sejak dulu, di tahun 2025 ini assassin's creed Shadows hadir sebagai game yang memiliki grafik visual yang memanjakan mata, disini kami berikan sekilas review game assassins creed shadows. Selalu pantau website ini untuk Update Terbaru Seputar Gaming & Video Game .
Assassin's Creed Shadows membawa para pemain ke Jepang pada era tahun 1570-an, tepatnya di Kyoto, sebuah kota yang kaya akan sejarah dan budaya. Dengan menggunakan engine terbaru Ubisoft, game ini menghadirkan visual yang luar biasa memukau. Dari detik pertama permainan, suasana Jepang terasa begitu hidup dan autentik.

Dengan dynamic season yang diperkenalkan, setiap lokasi memiliki nuansa yang berbeda tergantung pada musimnya—dari musim semi dengan bunga sakura yang berjatuhan, musim panas yang cerah, musim gugur yang penuh dengan dedaunan berguguran, hingga musim dingin yang diselimuti salju tebal.
Visual dan Dunia yang Menakjubkan

satu aspek terbaik dari game ini adalah dunia terbuka yang begitu imersif. Kyoto pada masa feodal ditampilkan dengan sangat rinci, menghadirkan landmark bersejarah seperti Himeji Castle, Takeda Castle, hingga berbagai kuil ikonik seperti Todai-ji dan Kongobu-ji. Pemain dapat menjelajahi kota-kota padat penduduk hingga daerah pedesaan seperti Iga dengan perbukitan dan sawah-sawahnya yang terus berubah seiring musim. Setiap detail lingkungan terasa begitu hidup, bahkan hingga elemen kecil seperti daun-daun yang berguguran dan refleksi cahaya pada salju.

Ubisoft juga tetap memasukkan fitur codex yang memungkinkan pemain untuk mempelajari sejarah dari setiap landmark yang dikunjungi. Ini memberikan pengalaman tambahan bagi mereka yang ingin memahami lebih dalam tentang budaya dan sejarah Jepang pada masa itu.
Cerita yang Menarik dengan Dua Karakter Utama

Cerita dalam Assassin's Creed Shadows berfokus pada dua karakter utama, Naoe dan Yasuke, yang masing-masing memiliki motivasi kuat untuk membalas dendam. Naoe harus membalaskan kematian ayahnya yang dibunuh oleh 12 orang bertopeng dan merebut kembali kotak pusaka yang dicuri. Sementara itu, Yasuke memiliki dendamnya sendiri dan berusaha membantu Naoe dalam perjalanan mereka.
Salah satu kekuatan dari cerita ini adalah bagaimana narasi 12 orang bertopeng memiliki latar belakang yang logis dan kuat. Dengan latar belakang politik yang kompleks di era Oda Nobunaga dan banyaknya daimyo yang tersebar di berbagai wilayah, alasan di balik persatuan 12 orang ini terasa masuk akal. Setiap karakter antagonis memiliki motif dan moralitas masing-masing, yang menjadikan cerita lebih dalam dan tidak sekadar hitam-putih.

Pemain juga diberikan opsi untuk memainkan cerita dalam dua mode: Canon Mode dan Non-Canon Mode. Dalam Canon Mode, pemain tidak bisa memilih jawaban dalam percakapan-percakapan penting, sementara dalam Non-Canon Mode, pemain dapat menentukan jalannya cerita, termasuk siapa yang hidup dan siapa yang mati. Ini memberikan elemen replayability, meskipun dengan durasi permainan yang panjang, tidak semua pemain mungkin ingin mengulanginya hanya untuk melihat berbagai kemungkinan akhir cerita.
Traversal yang Terbatas dan Fitur yang Hilang
Walaupun dunia yang ditawarkan begitu luas dan menarik untuk dijelajahi, traversal dalam game ini terasa agak terbatas. Beberapa fitur yang sebelumnya ada di seri Assassin’s Creed justru menghilang, seperti fitur autopilot untuk kuda, yang memaksa pemain untuk terus menekan analog saat berkuda ke lokasi yang jauh. Selain itu, sistem pendakian juga terasa lebih terbatas, di mana tidak semua batu bisa dipanjat, terutama jika menggunakan Yasuke.
Namun, game ini memberikan titik fast travel dalam jumlah yang cukup banyak, terutama di puncak-puncak istana dan kuil. Selain itu, fitur kakurega, atau markas kecil, juga bisa dibuka dengan cara membayar dan dapat digunakan untuk resupply alat serta fast travel.
Dynamic season juga memberikan efek pada traversal. Misalnya, Naoe kesulitan berjalan di atas salju tebal, sementara Yasuke tidak terpengaruh. Selain itu, kolam dan sungai yang membeku di musim dingin bisa menjadi jalur baru, tetapi juga bisa menyebabkan pemain tergelincir jika berlari terlalu cepat.
Perbedaan Naoe dan Yasuke dalam Pertarungan
Perbedaan antara Naoe dan Yasuke tidak hanya terletak pada traversal, tetapi juga dalam gaya bertarung mereka. Yasuke memiliki serangan yang lebih kuat dan mematikan dengan berbagai senjata seperti longkatana, naginata, kanabo, tepo (rifle), dan busur. Sementara itu, Naoe lebih mengandalkan kecepatan dengan senjata seperti kusarigama, kunai, dan shuriken. Setiap karakter memiliki eksekusi blow yang memuaskan dan sadis, yang membuat pertarungan terasa lebih brutal.
Salah satu aspek yang kurang memuaskan adalah kurangnya variasi senjata mistis atau fantasi. Senjata yang ada lebih realistis dan hanya memiliki efek poison atau bleeding, tanpa elemen tambahan seperti api atau es. Namun, sistem kustomisasi memungkinkan pemain untuk mengubah bentuk visual senjata dan armor tanpa mengubah statistiknya.
Stealth: Masih Sama, dengan Elemen Baru yang Kurang Efektif
Stealth tetap menjadi bagian penting dalam Assassin's Creed Shadows, tetapi elemen-elemen baru yang diperkenalkan terasa kurang signifikan. Misalnya, fitur bersembunyi di langit-langit tidak memberikan banyak keuntungan karena pemain bahkan tidak bisa bersiul untuk menarik perhatian musuh. Begitu juga dengan fitur mematikan sumber cahaya yang terasa kurang efektif dan inkonsisten.
Sebaliknya, elemen cuaca seperti hujan dan malam hari justru lebih berpengaruh terhadap stealth. Hujan membuat langkah pemain lebih sulit terdengar, sementara malam hari memberikan lebih banyak tempat untuk bersembunyi dan meningkatkan efektivitas assassination. Sayangnya, tidak ada mekanik manual untuk mengganti siang dan malam, yang memaksa pemain untuk menunggu waktu berlalu secara alami jika ingin melakukan misi stealth di malam hari.
Side Quest yang Repetitif dan Kurang Variatif
Salah satu kekurangan terbesar dalam Assassin’s Creed Shadows adalah side quest dan aktivitas dunianya yang terasa repetitif. Banyak side mission yang hanya berfokus pada membunuh target tanpa variasi gameplay yang signifikan. Sistem scout yang digunakan untuk menemukan target juga terasa seperti memperpanjang proses grinding yang tidak perlu.
Dengan lebih dari 100 target yang harus dibunuh dalam side mission, aktivitas ini bisa terasa melelahkan dan membosankan. Meskipun dunia yang indah dan mekanik combat yang menyenangkan, repetisi dalam side quest bisa menjadi faktor yang mengurangi daya tarik permainan dalam jangka panjang.
Kesimpulan
Assassin's Creed Shadows menawarkan pengalaman yang luar biasa dalam hal dunia terbuka dan visual yang memukau. Dengan Kyoto yang begitu detail dan dynamic season yang membuat dunia terasa lebih hidup, game ini berhasil menghadirkan atmosfer Jepang feodal yang autentik. Cerita yang menarik dan mekanik pertarungan yang seru juga menjadi nilai tambah.
Namun, traversal yang terasa terbatas, kurangnya fitur penting seperti autopilot untuk kuda, serta repetitifnya side quest menjadi beberapa kekurangan yang mencolok. Walaupun stealth masih menjadi elemen utama, fitur baru yang diperkenalkan tidak terlalu berdampak besar dalam gameplay.
Bagi para penggemar Assassin’s Creed, terutama yang sudah lama menantikan setting Jepang, game ini tetap layak dimainkan. Namun, bagi mereka yang mengharapkan sesuatu yang benar-benar baru dalam mekanik permainan, mungkin akan merasa bahwa game ini masih memiliki beberapa kelemahan yang perlu diperbaiki.